A FLOWER AND BOOK LOVER "If I waited for perfection, I would never write" - Margaret Atwood
Selasa, 11 Oktober 2016
INTERLUDE
Penulis : Windry Ramadhina
Editor : Gita Romadhona & Ayuning
Penerbit : Gagas Media, 2014
Halaman : viii + 372 hlm
Saat membeli novel ini, saya sama sekali tidak tahu harus berekspetasi apa mengenai isinya karena niat awal bukan novel ini yang ingin saya beli. Alasan saya tetap membelinya adalah karena novel ini karya mbak Windry, yang sudah pernah menyapa saya dalam novel London. Saya jatuh cinta dengan cara beliau bertutur dalam London sehingga meski tidak yakin, saya berharap akan kembali terpesona dengan cerita beliau. Dan benar, saya langsung jatuh hati dengan tokoh Hanna dan Kai.
Hanna adalah gadis yang mengalami tragedi pemerkosaan oleh kakak kelasnya, tapi teman-teman di kampusnya justru menganggap ia bukan korban. Meski masih dipenuhi trauma akan kisah kelamnya itu, Hanna yang harus hidup dalam ketakutan dan bolak balik ke psikiater ini tetap memutuskan untuk kembali ke dunianya lagi. Namun kenyataannya sangat tidak mudah.
Kai adalah pemuda jenius yang tak punya tujuan hidup. Ipk kuliahnya cemerlang dan bakat musiknya bersinar bersama Second Day Charm, tapi kondisi keluarganya yang berantakan justru membuat Kai menjadi pemabuk dan suka main perempuan.
Hanna dan Kai lalu bertemu lewat petikan gitar Kai. Paras Hanna yang cantik menawan Kai, membuatnya berusaha mendekati gadis itu. Ia juga menganggap sikap takut Hanna hanyalah kedok untuk menarik perhatian laki-laki. Lalu, Kai melakukan sesuatu yang menyakiti Hanna. Dan perasaan bersalah seketika menguasainya begitu Gitta-teman satu bandnya, menceritakan tentang masa lalu Hanna.
Kai yang playboy pun mencoba memperbaiki kesalahannya dan berujung ia jatuh cinta pada Hanna. Sebenarnya, Hanna pun merasakan hal yang sama. Namun rasa takut yang masih membayangi hidupnya membuat kedua insan itu justru saling menjauh.
***
Garis besar cerita ini bisa ditebak. Seorang playboy yang menemukan cinta dan berusaha untuk berubah. Hanya saja, gadis penakluk itu bukanlah gadis ceria atau polos, melainkan gadis yang hidupnya dipenuhi ketakutan akan trauma masa lalunya. Gadis yang bahkan tidak bisa menaklukan rasa takutnya sendiri. Namun, saya senang karena akhirnya tetap happy ending 😊
Saya jatuh cinta dengan tokoh Kai, yang saya yakin juga dialami banyak pembaca lain yang sudah melahap novel ini. Pembawaannya yang cuek, tapi begitu lembut pada gadis yang dicintainya, memang magnet untuk banyak wanita. Namun kalau boleh jujur, pertemuan Hanna dan Kai di atap apartemen lah yang membuat saya jatuh hati pada gitaris Second Day Charm tersebut. Penjabaran mbak Windry saat Hanna melihat Kai memainkan gitarnya di bawah pohon bougenvil yang meranggas itu membuat saya merasa Kai seperti seorang pangeran dari antah berantah. Sementara Hanna, saya menyukai cara mbak Windry mendeskripsikan rasa takutnya lewat berbagai ekspresi dan gerakan. Saya sebenarnya tidak terlalu suka dengan sikap Hanna yang mudah menyerah akan Kai, tapi mengingat latar belakang sikap introvert Hanna, saya yakin itu memang tidak mudah.
Mbak Windry mengemas dengan apik semua yang ada dalam novel ini. Tak hanya tentang kedua tokoh utama, tapi juga side story dari kedua teman band Kai-Gitta dan Jun. Cerita yang sama menariknya tapi sama sekali tidak menganggu kisah Hanna dan Kai sendiri. Satu-satunya hal yang agak mengganjal buat saya di novel ini adalah pergaulan bebas Kai dengan perempuan. Meskipun dia memang diceritakan seorang player, saya pribadi tidak terlalu suka dengan kata-kata kasar dan perlakuannya kepada gadis selain Hanna. Terlalu kasar.
Ehm, masih ada satu lagi ternyata. Saya sangat menyukai cerita romantis, tapi jika terlalu banyak ditunjukkan dengan adegan mesra( ciuman bibir ), saya merasa rasa romancenya justru memudar. Entahlah, mungkin ini kembali pada selera masing-masing. Dan saya lebih menyukai aura romantis yang tercipta tanpa banyak kontak fisik berlebihan. Lagipula, dalam adat ketimuran kita hal-hal semacam itu juga tergolong tabu.
Well, terlepas dari hal-hal tersebut, saya tetap menganggap mbak Windry adalah salah satu penulis berbakat sekaligus favorit saya. Diksi-diksinya yang indah membuat saya rela menjadi salah satu penggemarnya. Dan untuk novel ini, saya memberi 3 bintang.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar